Festival & Tradisi

Tradisi Tabuik Pariaman: Festival Budaya Pesisir Sumatera Barat yang Spektakuler dan Penuh Sejarah

Dua buah Tabuik raksasa diusung ratusan warga menuju Pantai Gandoriah, Pariaman — momen paling dramatis dalam festival budaya Sumatera Barat ini — Sumber: InfoCerdas

Festival yang Jarang Didengar tapi Wajib Diketahui

Pernah dengar soal menara raksasa setinggi gedung enam lantai yang diarak ratusan orang lalu diceburkan ke laut? Kedengarannya seperti adegan film, tapi ini beneran terjadi setiap tahun di Pariaman, Sumatera Barat. Namanya Tabuik — dan kalau kamu belum pernah tahu soal ini, wajar saja. Festival ini memang belum sepopuler Nyepi atau Waisak di kalangan wisatawan nasional, padahal skalanya nggak kalah kolosal.

Saya pertama kali tahu soal Tabuik dari seorang teman asal Padang yang cerita sambil nunjukin video di ponselnya. Reaksi pertama saya waktu itu cuma satu: "Kok bisa ya ada festival sekeren ini tapi jarang banget masuk berita?" Dari situ saya mulai cari tahu lebih dalam, dan akhirnya nekat datang langsung ke Pariaman untuk menyaksikan sendiri. Dan jujur — pengalaman itu mengubah cara pandang saya soal kekayaan budaya Indonesia.

Suara gandang tasa yang menghentak itu bukan sekadar iringan musik. Getarannya masuk sampai ke tulang rusuk. Ribuan orang memadati jalan-jalan kecil di Pariaman, berdesak-desakan tapi tetap tertib. Ada semacam energi kolektif yang susah dijelaskan kalau belum merasakannya langsung. Pokoknya, ini bukan festival yang cukup dilihat dari layar handphone.

Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak kamu mengenal Tabuik lebih dekat — dari mana asalnya, kenapa masih bertahan sampai sekarang, seperti apa prosesinya dari hari ke hari, dan tentu saja, tips kalau kamu berencana datang langsung ke sana.

Asal-Usul Tabuik: Perpaduan Islam Syiah dan Budaya Minangkabau

Cerita Tabuik nggak bisa dipisahkan dari satu peristiwa besar dalam sejarah Islam: gugurnya Husain bin Ali di padang Karbala, Irak, pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah. Itu sekitar tahun 680 Masehi. Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, tewas bersama rombongan kecilnya saat berhadapan dengan pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini menjadi luka mendalam bagi umat Islam, terutama penganut Syiah yang menganggapnya sebagai tragedi kemanusiaan terbesar.

Lalu bagaimana ceritanya tradisi peringatan Muharram ala Syiah bisa nyasar sampai ke kota kecil di pesisir barat Sumatera? Kuncinya ada di jalur perdagangan laut dan kolonialisme.

Pada abad ke-19, Pariaman adalah salah satu pelabuhan penting di pantai barat Sumatera. Banyak pedagang dan tentara bayaran dari India yang bermukim di sana. Sebagian dari mereka — terutama kelompok Sipahi — adalah penganut Islam Syiah. Mereka membawa tradisi peringatan Muharram yang di India dikenal dengan sebutan "Tabut", artinya keranda atau peti, merujuk pada peti jenazah Husain.

Nah, begitu tradisi ini masuk ke ranah Minangkabau, terjadilah sesuatu yang khas Indonesia banget: akulturasi. Nama "Tabut" bergeser jadi "Tabuik" dalam logat Minang. Hiasan-hiasannya berubah mengikuti selera seni lokal. Ritual yang awalnya bersifat keagamaan pelan-pelan bertransformasi menjadi perayaan budaya yang terbuka untuk semua orang, terlepas dari mazhab atau latar belakang agamanya.

Yang bikin saya takjub, masyarakat Pariaman yang mayoritas Sunni justru merangkul tradisi ini sebagai identitas kultural mereka. Tidak ada gesekan, tidak ada perdebatan teologis yang merusak. Tabuik jadi bukti bahwa kebudayaan Indonesia punya daya serap yang luar biasa — mampu mengambil sesuatu dari luar, mengolahnya, dan menjadikannya sesuatu yang sepenuhnya milik sendiri.

Fakta Sejarah Tabuik

Akar Tradisi: Peringatan gugurnya Husain bin Ali di Karbala, 10 Muharram 61 H (680 M)
Masuk ke Pariaman: Abad ke-19, dibawa oleh tentara Sipahi India penganut Syiah
Transformasi: Dari ritual keagamaan menjadi festival budaya inklusif
Status Saat Ini: Festival budaya unggulan Kota Pariaman, Sumatera Barat
Pengakuan: Dalam proses pengajuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional

Menara Tabuik: Mahakarya Seni Rakyat

Kalau ditanya apa yang paling ikonik dari seluruh festival ini, jawabannya jelas: menara Tabuik itu sendiri. Ini bukan menara biasa. Bayangkan konstruksi raksasa setinggi 15 sampai 20 meter — kira-kira setinggi gedung lima atau enam lantai — yang seluruhnya dibuat dari bahan-bahan tradisional: kayu, bambu, rotan, kertas warna-warni, dan kain.

Di bagian paling puncak, ada sosok Bouraq — makhluk mitologis bersayap dengan wajah manusia. Dalam tradisi Islam, Bouraq adalah kendaraan yang membawa Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi'raj. Dalam konteks Tabuik, Bouraq dianggap sebagai kendaraan suci yang mengantarkan roh Husain bin Ali menuju surga setelah gugur di Karbala. Pembuatan ornamen Bouraq ini dikerjakan oleh pengrajin-pengrajin paling terampil di Pariaman, dan setiap detailnya — dari helai bulu sayap hingga ekspresi wajah — dibuat dengan presisi tinggi.

Yang menarik, setiap tahun selalu ada dua menara Tabuik yang dibangun secara terpisah oleh dua kelompok masyarakat:

  • Tabuik Pasa — dibangun oleh warga dari wilayah Pasar di sisi utara Sungai Batang Piaman
  • Tabuik Subarang — dibangun oleh warga dari wilayah Seberang di sisi selatan sungai

Dua menara ini nanti akan "beradu" secara simbolis dalam prosesi puncak, mewakili pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Tapi pertarungannya bukan dalam artian kekerasan — ini lebih mirip kompetisi seni dan kebanggaan komunitas. Siapa yang menaranya lebih tinggi, lebih indah, dan diusung dengan lebih gagah.

Proses pembuatan satu menara Tabuik memakan waktu sekitar dua minggu dan melibatkan seluruh warga kampung tanpa terkecuali. Mulai dari bapak-bapak yang memotong bambu di tepi sungai, ibu-ibu yang menyiapkan logistik makan siang, sampai anak-anak muda yang memaku rangka kayu di bawah terik matahari. Ini bukan proyek individu — ini proyek satu komunitas utuh.

Detail ornamen Bouraq di puncak menara Tabuik dengan sayap berwarna-warni dan ukiran yang sangat halus
Ornamen Bouraq di puncak menara Tabuik — perpaduan seni dan simbol spiritual yang menakjubkan, dibuat dari ribuan lembar kertas warna-warni — Sumber: InfoCerdas

Rangkaian Acara: 10 Hari Penuh Drama

Satu hal yang sering bikin orang salah sangka: Tabuik itu bukan acara sehari. Ini festival yang berlangsung selama sepuluh hari penuh, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram dalam penanggalan Hijriah. Setiap harinya punya agenda tersendiri, dan masing-masing membawa nuansa yang berbeda — dari yang khusyuk dan hening sampai yang riuh rendah penuh adrenalin.

Hari ke-1: Maambiak Tanah (Ritual Pengambilan Tanah)

Semuanya dimulai dengan upacara pengambilan tanah dari dua lokasi yang sudah ditetapkan secara adat. Tanah ini bukan tanah sembarangan — diambil dari dasar sungai atau dari tempat yang dianggap punya nilai spiritual oleh masyarakat setempat. Prosesi ini dilakukan dengan hening dan penuh penghormatan, seolah-olah sedang membangunkan sesuatu yang selama ini tertidur di dalam bumi.

Hari ke-1 sampai ke-5: Maarak Jari-Jari

Istilah "jari-jari" di sini merujuk pada bagian-bagian kerangka menara Tabuik yang sudah mulai dirakit. Setiap hari, bagian-bagian ini diarak keliling kampung sambil diiringi tabuhan gandang tasa — ensembel perkusi khas Minangkabau yang bunyinya bisa terdengar dari ujung jalan. Kalau kamu kebetulan sedang tidur di hotel sekitar situ, jangan heran kalau terbangun jam enam pagi karena suara drum yang menggelegar.

Hari ke-5: Maarak Puncak Tabuik

Ini momen pertama di mana publik bisa melihat hasil karya kedua kelompok secara utuh. Puncak menara yang sudah dihiasi ornamen Bouraq beserta seluruh dekorasi pendukungnya diarak keliling kota dengan iringan musik dan tarian. Energi di hari ini sudah mulai meninggi — warga dari kampung seberang biasanya ikut datang menonton dan diam-diam membandingkan dengan punya kampung mereka sendiri.

Hari ke-7 sampai ke-9: Gladi Bersih dan Sentuhan Akhir

Tiga hari menjelang puncak digunakan untuk menyempurnakan setiap detail menara. Para pengusung juga melakukan latihan akhir — karena mengangkat konstruksi seberat ratusan kilogram sambil berjalan beberapa kilometer itu bukan perkara sepele. Satu langkah salah, satu koordinasi meleset, menara bisa oleng dan jatuh. Tekanan mental dan fisiknya nyata.

Hari ke-10: Hoyak Tabuik — Detik-Detik yang Menggetarkan

Inilah klimaksnya. Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang selama setahun penuh. Kedua menara Tabuik yang sudah sempurna diusung dari tempat masing-masing menuju Pantai Gandoriah. Jalanan dipenuhi ribuan penonton yang berteriak dan bertepuk tangan. Para pengusung menggoyang-goyangkan menara dengan gerakan dramatis yang disebut "hoyak" — dan setiap kali menara bergoyang, kerumunan ikut bersorak seperti gelombang suara yang saling bersahutan.

Sesampainya di pantai, menara-menara ini satu per satu didorong ke laut. Perlahan tenggelam ditelan ombak. Beberapa penonton ikut tercebur ke air, sebagian lagi berdiri di bibir pantai dengan mata berkaca-kaca. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang diam saja memandang menara yang makin hilang di balik deburan ombak. Ini bukan sekadar tontonan — ini pelepasan emosional kolektif yang susah dicari padanannya.

Ringkasan Rangkaian Acara Tabuik

Hari 1: Maambiak Tanah — Pengambilan tanah secara ritual
Hari 1–5: Maarak Jari-Jari — Prosesi arak-arakan bagian Tabuik
Hari 5: Maarak Puncak Tabuik — Puncak menara diarak keliling kota
Hari 7–9: Persiapan Akhir dan Gladi Resik
Hari 10: Hoyak Tabuik — Puncak festival, menara diusung ke laut

Suasana Pantai Gandoriah Pariaman saat prosesi Hoyak Tabuik dipadati ribuan penonton
Momen menara Tabuik dihanyutkan ke laut — puncak dari rangkaian festival selama sepuluh hari yang emosional dan tak terlupakan — Sumber: InfoCerdas

Makna Sosial di Balik Festival

Kalau cuma dilihat dari luar, Tabuik memang tampak seperti pertunjukan seni berskala besar. Tapi buat masyarakat Pariaman, festival ini punya lapisan makna yang jauh melampaui aspek estetika semata.

Soal gotong royong dulu. Membangun satu menara Tabuik itu bukan kerjaan satu-dua orang. Perlu puluhan — bahkan ratusan — tangan yang bekerja bersama selama berminggu-minggu. Tukang kayu yang biasanya sibuk dengan pesanan mebel meluangkan waktunya. Pedagang di pasar menyumbang bahan-bahan. Anak-anak muda yang sehari-hari kerja di kota pulang kampung khusus untuk ikut gotong royong. Tabuik memaksa seluruh komunitas untuk duduk bersama, bekerja bersama, dan menyelesaikan sesuatu bersama. Di zaman di mana tetangga sebelah rumah saja kadang nggak saling kenal, ini jadi sesuatu yang langka dan berharga.

Soal identitas. Arus globalisasi itu deras banget. Anak-anak muda Pariaman yang merantau ke Jakarta, Bandung, atau Medan pelan-pelan kehilangan koneksi dengan kampung halaman mereka. Tapi Tabuik jadi alasan kuat untuk pulang. Jadi jangkar yang mengingatkan mereka siapa, dari mana, dan apa yang membuat kampung mereka istimewa. Buat yang sudah lama merantau, ikut mengusung Tabuik terasa seperti menemukan kembali bagian dari diri yang sempat tertinggal.

Soal menyalurkan rivalitas secara sehat. Persaingan antara Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang itu bukan main-main. Kadang panasnya bisa setara derby sepak bola antar kampung. Tapi justru di situlah letak kecerdasannya: energi kompetitif yang kalau nggak disalurkan bisa berubah jadi konflik, diubah menjadi ajang adu kreativitas dan kebanggaan lewat seni. Selesai festival, dua kubu bisa duduk bareng makan rendang. Selesai. Tanpa dendam. Tahun depan mulai lagi dari nol.

"Tabuik mengajarkan kita bahwa persaingan yang sehat bisa menjadi kekuatan yang mempererat, bukan memecah belah. Ketika dua kubu berlomba membuat Tabuik yang paling megah, sesungguhnya mereka sedang bersama-sama menjaga warisan budaya yang tak ternilai."

— Tokoh Adat Pariaman
Warga Pariaman bergotong royong bersama membangun dan menghias menara Tabuik
Semangat gotong royong warga Pariaman dalam membangun menara Tabuik — sebuah tradisi yang memperkuat ikatan sosial komunitas — Sumber: InfoCerdas

Tabuik: Antara Pelestarian dan Promosi

Beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Pariaman makin serius mendorong Tabuik sebagai magnet wisata budaya. Dan langkah-langkah yang diambil cukup konkret — bukan sekadar wacana di rapat dinas.

  • Pembangunan tribun penonton permanen di kawasan Pantai Gandoriah supaya penonton punya tempat yang layak dan aman
  • Kerja sama dengan platform digital untuk menayangkan prosesi Tabuik secara live streaming, menjangkau diaspora Minang di seluruh dunia
  • Produksi film dokumenter bersama sineas lokal dan nasional yang menggali sisi-sisi Tabuik yang belum banyak diketahui publik
  • Pengajuan resmi Tabuik sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • Program pelatihan terstruktur bagi generasi muda Pariaman untuk belajar langsung dari para pengrajin senior, memastikan keahlian membuat Tabuik tidak putus di satu generasi

Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran yang nggak bisa diabaikan. Beberapa tetua adat menyuarakan keresahan bahwa ketika Tabuik terlalu dikemas sebagai produk pariwisata, ada risiko esensi spiritualnya terkikis. Festival yang dulu dijalankan dengan penuh penghayatan bisa berubah jadi sekadar pertunjukan buat turis. Garis antara pelestarian dan komodifikasi memang tipis, dan menjaganya butuh kebijaksanaan dari semua pihak — pemerintah, tokoh adat, maupun masyarakat sendiri.

Tantangan lain yang nggak kalah nyata: regenerasi. Anak-anak muda Pariaman yang merantau ke kota besar semakin banyak. Yang mau belajar bikin Tabuik dari nol semakin sedikit. Kalau tren ini dibiarkan tanpa intervensi, bisa jadi dua puluh tahun lagi nggak ada lagi yang punya keahlian merakit menara setinggi lima lantai dari bambu dan rotan. Festival tetap ada, tapi rohnya sudah pergi.

Tips Menyaksikan Tabuik Secara Langsung

Kalau sampai di sini kamu sudah mulai berpikir "sepertinya saya harus datang ke sana," maka berikut beberapa tips dari pengalaman pribadi yang semoga berguna:

  • Jangan cuma datang di hari ke-10. Kebanyakan wisatawan hanya datang di hari puncak karena itu yang paling terkenal. Padahal prosesi hari ke-1 sampai ke-5 punya daya tarik tersendiri yang lebih intim dan memungkinkan kamu berinteraksi langsung dengan warga yang sedang membangun Tabuik.
  • Booking penginapan minimal dua bulan sebelumnya. Hotel dan homestay di Pariaman itu terbatas jumlahnya, dan saat festival semuanya sold out. Kalau kehabisan, alternatifnya menginap di Padang yang jaraknya sekitar 56 kilometer — tapi itu berarti kamu harus bolak-balik setiap hari.
  • Bawa jas hujan dan sepatu yang nyaman. Bulan Muharram itu berpindah-pindah di kalender Masehi. Bisa jatuh di musim hujan, bisa juga di kemarau. Jas hujan lipat kecil dan sepatu anti-slip adalah investasi kecil yang menyelamatkan.
  • Hormati prosesi. Ini bukan konser musik atau karnaval biasa. Ada unsur sakral di dalamnya. Ikuti arahan panitia, jangan nekat masuk ke area terlarang demi foto bagus, dan hindari perilaku yang bisa dianggap tidak menghargai tradisi setempat.
  • Jangan pulang sebelum coba kulinernya. Katupek Pitalah, Gulai Ikan Tongkol, Sala Lauak (perkedel ikan khas Pariaman), dan Pinyaram (kue goreng manis dari tepung beras) — ini semua bukan makanan yang bisa kamu temukan di food court mal Jakarta. Serius, Sala Lauak-nya saja sudah worth the trip.
  • Siapkan kamera dan power bank cadangan. Kamu akan terus memotret dan merekam dari pagi sampai sore. Baterai habis di tengah prosesi Hoyak Tabuik itu rasanya menyesal banget.
Aneka kuliner khas Pariaman yang wajib dicicipi saat berkunjung ke festival Tabuik
Kuliner khas Pariaman — Sala Lauak, Pinyaram, dan Katupek Pitalah yang wajib dicicipi sebagai bagian dari pengalaman budaya yang lengkap — Sumber: InfoCerdas

Penutup: Mengenal Tabuik Berarti Mengenal Indonesia Lebih Dalam

Indonesia itu luas. Dan di balik luasnya, tersembunyi ribuan tradisi yang masing-masing menyimpan cerita, filosofi, dan kebijaksanaan lokal yang nggak ternilai harganya. Tabuik Pariaman adalah salah satunya — sebuah festival yang membuktikan bahwa budaya Indonesia punya kemampuan luar biasa untuk menyerap pengaruh dari luar, mengolahnya dengan tangan sendiri, dan menghasilkan sesuatu yang sepenuhnya orisinal.

Tantangannya sekarang ada di pundak kita semua. Bukan cuma pemerintah daerah, bukan cuma tokoh adat, tapi juga kita — siapa saja yang membaca tulisan ini. Langkah paling sederhana sudah kamu ambil: mengetahui bahwa Tabuik itu ada. Langkah berikutnya? Ceritakan ke satu orang lain. Bagikan artikel ini. Atau kalau memungkinkan, datang langsung ke Pariaman dan rasakan sendiri.

Karena tradisi yang tidak diceritakan adalah tradisi yang sedang menunggu untuk dilupakan. Dan kehilangan satu tradisi berarti kehilangan satu bagian dari jiwa bangsa ini yang nggak akan pernah bisa dikembalikan.

Jadi — festival apa yang akan kamu kunjungi berikutnya?

Referensi & Sumber

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2023). Inventarisasi Warisan Budaya Tak Benda: Tabuik Pariaman. Kemdikbud.
  2. Dinas Pariwisata Kota Pariaman. (2024). Panduan Resmi Festival Tabuik Pariaman. Pemkot Pariaman.
  3. Asnan, G. (2007). Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an. Yayasan Obor Indonesia.
  4. Navis, A. A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Grafiti Pers.
  5. UNESCO. (2024). Intangible Cultural Heritage Lists. UNESCO.
Redaksi Budaya Nusantara InfoCerdas.my.id

Redaksi Budaya Nusantara

Tim redaksi Budaya Nusantara berdedikasi untuk mengangkat, mendokumentasikan, dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai. Kami percaya bahwa setiap tradisi lokal adalah harta karun yang layak dirayakan dan dilestarikan oleh seluruh generasi bangsa.